Jangan Panggil Aku Paman Anak Kecil !!

Jangan Panggil Aku Paman Anak Kecil !!

Sejak umur 12 saya sudah punya keponakan. Sudah dipanggil Om mulai kelas 5 SD dan itu biasa-biasa saja. Tapi kenapa sekarang jadi aneh kalau ada yang panggil saya ‘Om ya?

Hmmmph.. Tahun sungguh cepat banget berlalu. Pas ketambahan media sosial, orang jadi lupa umur. Baik, oke, itu termasuk saya.

Mungkin karena saya termasuk yang selalu update. Ya update informasi, game, fashion, fun, food, etc. Cuma hape yang belum update nih, sudah berapa tahun nggak ganti.

Saking update-nya sampai lebih update dari anak-anak zaman now. Lah, mereka itu loh kadang ada yang nggak tahu caranya bikin grup WA hanya admin yang bisa kirim pesan..wkwkwk. Terus tanya deh ke saya: “Om gimana caranya supaya grup yang bisa kirim pesan cuma admin?”

Haaah… Om?? Emang kamu umur berapa berani panggil saya Om?? Kita loh sepertinya seumuran… Tinggi badan kamu dengan saya sama. Malah kamu kelihatan lebih tua dari saya.. *Esmossi tapi senyum.

Oh baiklah, dia remaja. Anak kecil. β€œTapi jangan panggil aku paman, anak kecil !!” kata saya dalam hati. Mirip seperti adegan di film kesukaan anak saya. Savi…Savii.. Savi..Savi…wkwkk..

Kalau Siva kan bilang: “Jangan panggil aku anak kecil, Paman!!”.. Siva..Siva..Sivaaaa..Siva..

Yang lebih ngeselin lagi kalo ada anak remaja panggil saya ‘Pak. Emangnya saya Bapak kamu apa?? Pengin bilang gitu tapi saya tahan.

Saya nggak terima dipanggil ‘Om sama orang yang bukan keponakan saya. Saya nggak rela dipanggil Bapak sama orang yang bukan anak saya. Sebab saya merasa masih pantas dipanggil ‘Mas… aaaissh.

Saya nggak cuma geli kalau saya dipanggil yang Om atau Pak. Saya merasa aneh juga kalau istri saya dipanggil Ibu. Saya pengin ketawa ngakak tapi takut dosa hihihi…

Tapi itu biasanya terjadi kalau saya dan istri keluar bareng bawa anak. Kalau saya lagi sendirian ya dipanggil ‘Mas. Istri saya juga ngakunya gitu: dipanggil mbak, kadang dikira masih kuliah. Saya percaya saja sambil memperhatikannya dari bawah ke atas kikikik.

Dan ternyata, perasaan gitu bukan dirasakan saya dan istri saya saja. Kecuali yang memang berprofesi sebagai guru atau dosen atau lainnya yang harus disebut Bapak dan Ibu, sebutan itu sensitif. Menusuk hati dan membangunkan kesadaran bahwa: bro and sist kalian sudah tua.

Siapa saja mereka yang tertusuk hatinya? Yaitu mereka yang sejajar, di atas saya sedikit dan di bawah saya sedikit tahun kelahirannya. Yaitu orang-orang yang lahir pada tahun 1970 seperti mbak-mbak saya dan tahun 1980-an seperti saya.

Mbak-mbak saya itu, mana mau dipanggil Bude. Mereka minta dipanggil tante semua hahaha… Wes wes.. Ada yang minta dipanggil Mama, Ebok.. Pokoknya hindari kata: BUDE. Karena itu singkatan dari Ibu yang berukuran Gede. NO WAY!

Orang kelahiran 1970-1980 sebenarnya memang tua. Ya sudah saya mengaku tua saja lah. Tapi sepertinya, kami ini adalah generasi yang paling bahagia. Makanya kami selalu merasa masih muda.

Sebab, saat kami kecil, masih banyak pohon berbuah yang bisa kami nikmati di sawah dan kebun-kebun meski bukan milik kami alias nyolong. Jajanan masih sangat murah, enak-enak dan isinya banyak.

Spesialnya lagi, generasi kami ini masih bisa buang sampah sembarangan tanpa takut banjir atau merusak lingkungan. Soalnya, masih banyak ruang terbuka hijau, sawah terbentang, resapan air di mana-mana dan halaman rumah orang-orang belum disemen dan dipaving seperti sekarang ini. Pemakaian plastik juga masih jarang banget.

Pas saya kecil, sudah gembot, nintendo dan PS seri pertama. Kami juga masih bisa main lari-larian bebas, berenang di sungai, main bola di mana saja, petak umpet di semak-semak dan mainan alam lainnya.

Sekarang itu semua musnah. Ditelan perumahan, jalan, rumah penduduk dan sebagainya. Anak-anak sekarang mainnya di rumah, pegang hape.

Nggak ada film yang mereka tunggu karena sudah ada yutub. Nggak ada grogi-groginya nembak cewek karena bisa nyatain cinta texting pakai WA.

Menurut saya, hidup mereka nggak seru. Tapi mungkin menurut mereka itu lebih baik daripada cara main ayah dan ibunya dulu yang ngalas ke mana-mana.

Yowes semua ada waktunya. Setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya.

Setiap orang punya dan diberi nikmat sendiri-sendiri. Yang jelas itu semua nikmat dari Allah yang harus kita syukuri. Kenapa harus selalu berakhir religius, ya karena saya sedang sangat sayang sama Allah. Sedang pengin bersama-Nya terus, termasuk di status panjang fesbuk saya.

Ya Rahman..Ya Rahim..
Alhamdulillahirabbilalamin..

Foto: Mereka adalah ponakan-ponakan yang boleh panggil saya Om dan anak-anak yang biasa panggil saya Daddy 😎😎😎. Di sela-selanya ada mbak-mbak saya, istri dan lovely Ebok.

Written by
Nara Ahirullah
Join the discussion

Instagram has returned empty data. Please authorize your Instagram account in the plugin settings .

Tentang Nara

Nara Ahirullah

Saya tidak pandai bercerita, tapi suka menulis.

Instagram

Instagram has returned empty data. Please authorize your Instagram account in the plugin settings .