Internet Bukan Pengganti Buku

Internet Bukan Pengganti Buku

Dulu dari 1.000 orang konon hanya 1 orang yang suka baca. Sekarang, dari 1.000 orang mungkin 999 yang suka baca.

Baca apa? Baca status orang, baca meme, baca caption foto, baca text berjalan di video, baca judul berita, baca screen shoot-an, baca berita pendek, menbaca artikel dan baca berita panjang.

Yang saya sebutin itu, nggak satu pun ada kata buku yah. Kalo soal buku, dari dulu sampai sekarang tetap aja: dari 1.000 orang hanya 1 yang suka baca buku.

Buku memang sudah didiversifikasi jadi ebook atau buku elektronik. Kini secara keren diistilahkan literasi digital.

Tapi alih-alih berpindah dari buku fisik ke buku digital, internet masih belum bisa menggantikan buku-buku fisik itu. Google atau mesin pencari apapun canggihnya dan menjawab lebih cepat dari Tuhan ‘tetap tidak menggantikan buku.

Menurut saya, buku lebih otentik, lebih bertanggungjawab dan yang terpenting buku itu “ada”. Buku itu semacam manifest dari cogito ergo sum: aku berpikir maka aku ada.

Maka bagi saya buku belum tergantikan. Apalagi dengan yang namanya internet.

Internet memang jendela dunia. Tapi saya yakin, buku adalah jendela yang lebih baik dari internet.

Karena internet sudah tercemar. Dikotori orang-orang politik yang nggak pernah puas dengan kemenangan dan nggak pernah terima kekalahannya.

Tapi sungai internet yang tercemar ini nggak disadari banyak orang. Terutama orang-orang tua yang percaya semua informasi itu benar. Saking banyaknya informasi yang beredar di internet, orang lalu butuh kepercayaan.

Muncul ide menamai situasi dengan sebutan post truth. Anak-anak jurnalis bilang poscrut. Ini kondisi chaos di era informasi. Semua menyatakan diri yang paling benar, kemudian saling tuduh produsen hoax.

Sudah… kita kembali ke buku saja. Internet fungsinya tetap sebagai hiburan. Kita kembali pada Alquran dan hadist juga.

Saya berkeyakinan bahwa lebih bijak para pembaca buku daripada pembaca status orang. Hati-hati, ini bukan hanya era kemajuan digital ‘tapi juga kemajuan berghibah dan saling fitnah. Remnya adalah buku. (nra)

Written by
Nara Ahirullah
Join the discussion

Instagram has returned empty data. Please authorize your Instagram account in the plugin settings .

Tentang Nara

Nara Ahirullah

Saya tidak pandai bercerita, tapi suka menulis.

Instagram

Instagram has returned empty data. Please authorize your Instagram account in the plugin settings .