Minaret (Menara) Ajaib

Minaret (Menara) Ajaib

TIDAK ada keharusan sebuah masjid memiliki minaret (menara) meski kebanyakan masjid memilikinya. Sejak zaman dulu minaret memang punya peran penting untuk masjid. Di masa sebelum ada loudspeaker (pengeras suara) para muadzin akan naik ke puncak minaret untuk mengumandangkan azan setiap waktu salat wajib.

Ketinggian minaret juga tak ada yang mengaturnya secara hukum. Saat itu menara dibangun setidaknya untuk bisa menjangkau 40 rumah yang ada di semua arah angin dari masjid. Sehingga, setidaknya ada 40 orang datang salat jamaah dalam masjid.

Waktu kemudian membawa masjid semakin megah, minaret-minaret itu semakin tinggi dan menjadi landmark. Bahkan, muadzin pun mungkin akan terengah-engah begitu sampai di puncak minaret dan kehabisan tenaga untuk azan. Sang muazin bisa kaku di ketinggian tertentu karena highphobia (takut ketinggian).

Bayangkan, kalau muadzin harus naik ke puncak minaret Masjid Hasan II di Casablanca, Negara Maroko yang tingginya 210 meter. Atau naik ke puncak minaret tertinggi sedunia di Masjid Teheran Iran yang tingginya 280 meter.

Untung ada Henry Kloss dan seorang temannya ‘Edgar Villchur yang oleh banyak sumber disebut sebagai penemu teknologi pengeras suara pada 1952. Apapun agamanya, mereka berjasa bagi Islam karena para muadzin tak perlu lagi naik ke puncak minaret untuk adzan.

Para muazin cukup mengumandangkan adzan di depan microphone dari dalam masjid. Pengeras suara yang dipasang di puncak minaret membuat suara muadzin terdengar hingga radius berkilo-kilometer.

Menurut sejarah, perkembangan masjid berikut minaretnya bermula sejak perang antara Israel melawan negara koalisi Arab yang dipimpin oleh Mesir dan Suriah. Perang itu dikenal dengan nama Perang Yom Kippur atau Perang Ramadan yang berkecamuk pada 1973, pascaperang dunia II. Perang itu terjadi karena Israel menolak mengembalikan wilayah yang direbut dari dua negara pemimpin dua koalisi tersebut.

Perang itu berdampak luar biasa bagi negara industri karena Raja Faisal bin Abdul Azis dari Arab Saudi mengumumkan pembatasan produksi minyak. Krisis energi di negara industri memicu harga minyak dunia membumbung tinggi. Bukan rahasia lagi, negara-negara Arab merupakan penghasil minyak hingga sekarang.

Nah, saat harga minyak naik itu negara Arab mendapatkan berkah perang. Negara-negara Islam semakin kaya, tapi tidak melupakan syariah untuk “berinvestasi” akhirat sebesar 20 persen dari penghasilan bersihnya guna mendukung pengembangan agama.

Maka sejak itu masjid-masjid dibangun megah berikut minaretnya yang menjulang ke langit menjamur di seluruh daratan Arab. Arsitektur masjid-masjid itu kemudian jadi contoh negara berpenduduk Islam lainnya.

***

Minaret berasal dari bahasa Arab ‘manarat‘ yang berarti mercusuar lalu diadopsi ke bahasa Indonesia jadi menara (selanjutnya minaret disebut menara). Laiknya mercusuar, menara-menara masjid diasosiasikan seperti lampu navigasi yang mencegah kapal karam, membentur karang atau tersesat.

Seperti halnya Islam yang mengajak semua orang sesat untuk bertobat, berada di jalan yang lurus dan selalu mendekatkan diri pada kebaikan.

Seruan-seruan yang meluncur dari menara masjid jutaan kali itu tak hanya bermakna mengajak. Tapi juga “menyuruh” manusia menyatakan kebesaran-Nya, bersaksi, beribadah, bergerak mendapatkan kesuksesan lalu kembali ke sisi-Nya dengan jalan yang baik. Seruan itu berlipat-lipat lebih ajaib dari sekadar mengingatkan orang bahwa salat lebih baik daripada tidur saat subuh.

Di Masjid Hasan II menaranya dilengkapi laser yang mengarah ke Kakbah. Sedangkan sejumlah masjid di Indonesia ada yang di bagian bawahnya jadi tempat parkir sandal jamaah, jadi toko sepatu, jadi pemancar seluler bahkan ada yang jadi gudang.

Semua tergantung manusia yang mengurusinya, karena hanya Dia yang tahu baik atau buruknya. Begitu juga untuk masalah lainnya. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui .” (Al-Hujurat: 1) (nra)

Tulisan ini pernah dimuat di Radar Madura (Jawa Pos Grup)

Written by
Nara Ahirullah
Join the discussion

Instagram has returned empty data. Please authorize your Instagram account in the plugin settings .

Tentang Nara

Nara Ahirullah

Saya tidak pandai bercerita, tapi suka menulis.

Instagram

Instagram has returned empty data. Please authorize your Instagram account in the plugin settings .