Akhirnya Membeli Buku Religi

Akhirnya Membeli Buku Religi

Suatu hari kami sekeluarga hendak berkunjung ke hajatan seorang teman di Surabaya Barat. Tempat itu sungguh jauh untuk ditempuh dengan sepeda motor. Dan akan mahal jika menggunakan gocar atau taksi. Maka kami punya rencana yang hemat tapi fun.

Kami akan bangun pagi. Mandi, sarapan lalu berangkat ke rumah kakek-neneknya anak-anak. Kemudian dari situ kami akan naik gocar ke halte Bus Suroboyo di ITS.

Ya, kami akan naik Bus Suroboyo dari ITS menuju Surabaya Barat dengan membayar ongkos 20 botol bekas minuman. Kebetulan kami punya banyak botol di rumah.

Kami berangkat jam 09.00 kemudian naik gocar ke ITS dan pas berpapasan dengan Bus Suroboyo. Karena masih ada bus lain di seberang jalan, kami membiarkan bus yang berpapasan tadi berangkat. Kami naik bus selanjutnya saja.

Ternyata, bus yang baru datang itu bukan bus jalur ke Surabaya Barat. Melainkan bus untuk jalur Surabaya Timur. Karena bakal lama menunggu, kami coba naik gocar lagi untuk menyusul bus yang sebelumnya sudah berangkat.

Gocar yang kami tumpangi terjebak macet lampu merah. Kami tidak bisa menyusul bus itu, tapi kami bisa menunggunya di sebuah toko buku.

Setelah ibadah Dhuhur kami naik ke toko buku dan mulai menikmati pameran mainan, tas, kacamata, alat musik dan alat-alat elektronik mahal di lantai 1 toko buku itu.

Kami lalu naik ke lantai 2, tempat khusus buku-buku. Dari jelajah majalah favorit, buku kiri, novel, saya akhirnya sampai ke rak buku agama. Saya baca beberapa lembar dan memutuskan membeli satu buku.

“Beli buku apa?” tanya istri dan anak-anak.”Buku agama,” kata saya sambil keluar hendak menunggu bus yang kami harap-harap itu. Karena lapar saya coba mencari sesuatu yang bisa dibeli dengan sisa uang beli buku.

Pas ada bakso di dekat toko buku itu, tepatnya di depan sebuah showroom mobil. Saat hendak membeli bakso itu, ternyata bakso itu sudah diborong showroom mobil tadi untuk pengunjungnya. “Bapak sama Ibu mari masuk saja nanti kami bikinkan baksonya,” kata seorang perempuan karyawan showroom.

Hehehe, kami ternyata masih terlihat pantas membeli satu mobil baru meski dari tadi kami rempong bawa botol-botol plastik bekas. Kami langsung dibawa ke sejumlah mobil baru di showroom itu. Disuruh lihat-lihat interior, coba duduk, pegang setir sampai akhirnya boleh duduk di meja kursi yang disediakan lalu bakso akhirnya datang.

Sambil makan bakso kami diajak bicara yang intinya, “Ayo pak beli mobil. Uang mukanya murah dan cicilannya ringan.”

Saking asyiknya mendengarkan tawaran karyawan showroom itu, bus yang kami tunggu-tunggu terlewat lagi. Sungguh, acara silaturahim ke Surabaya Barat hari itu nyaris gagal.

Untungnya beberapa saat kemudian di apikasi Gobus kami melihat ada bus lain dengan jalur yang kami butuhkan segera datang. Karena sudah kelelahan menunggu, kami langsung naik saja meski bus itu harus membawa kami ke ITS lagi. Tempat kami menunggu bus pertama tadi hhuuuugh…akhirnyaaah.

Di dalam bus saya bilang pada istri: “Akhirnya aku sampe ke waktu di mana aku membeli buku agama untuk dibaca,” ucapan yang disambut senyum istri. “Alhamdulillah,” kata ibunya anak-anak itu.

Perjalanan dengan rute Bus Suroboyo menuju Surabaya Barat sungguh panjang. Muter-muter sampe saya dan anak-anak ketiduran. Sesampainya di Surabaya Barat kami naik gocar lagi menuju rumah teman itu.

Acara di rumah teman itu sudah selesai saat kami datang. Tapi yang penting kami sudah berusaha hadir. Dan pulangnya kami memungut lagi 40 gelas plastik minuman untuk ongkos pulang Bus Suroboyo. Alat transportasi massal yang hanya menerima pembayaran botol dan gelas plastik bekas.

Di perjalanan pulang yang kembali lama dan panjang itu saya baca buku baru tadi. Maka di halaman kedua setelah sampul kalimat pertama tertulis: “Jangan berhenti menerima nasihat. Hati yang berhenti menerima nasihat akan mati.”

Saya jadi ingat buku filsafat pertama dulu yang di sampul keduanya tertulis kalimat: “Pergilah sejauh mungkin dengan tubuh dan pikiranmu, tapi jangan lupa jalan untuk pulang.””Iya. Ini mungkin sudah saatnya saya pulang,” gumam saya dalam hati. Dan kami memang dalam tujuan itu di malam minggu yang macet. Alhamdulillah. (nra)

Written by
Nara Ahirullah
Join the discussion

Instagram has returned empty data. Please authorize your Instagram account in the plugin settings .

Tentang Nara

Nara Ahirullah

Saya tidak pandai bercerita, tapi suka menulis.

Instagram

Instagram has returned empty data. Please authorize your Instagram account in the plugin settings .