Persahabatan tanpa Kepentingan

Persahabatan tanpa Kepentingan

Pernah 25 tahun yang lalu saya punya sahabat di Sumenep. Namanya Windhy Harisanto. Saya memanggilnya Risan. Terakhir saya masih sering mengunjunginya di Malang. Nomor telepon rumahnya pun saya masih hafal sampai sekarang.

Bagi saya Risan ini adalah sahabat pertama. Yang banyak bersama saya saat tinggal di Sumenep. Dia sahabat yang tulua berteman dengan saya yang waktu itu sempat tinggal sendirian.

Risan adalah anak seorang pejabat Kehutanan dan Perkebunan Sumenep saat itu. Kami bersahabat karena sama-sama suka main bola. Dia adalah striker yang gesit, sedanhkan saya adalah kiper yang cekatan.

Bersama Risan ini saya pernah merasakan panasnya terbakar mesiunya mercon. Sampe tangan saya melepuh.

Rumahnya waktu di Sumenep cukup jauh dari tempat tinggal saya. Tapi saya ato dia selalu saling berkunjung dengan bersepeda. Kami mandi di sungai ato main bola dan berpetualang di kebun-kebun.

Ketika saya kembali pindah ke Bangkalan, saya masih sering mengunjunginya di Sumenep. Saat dia pindah ke Malang, saya juga masih sering main ke rumah mewahnya dan seperti biasa main sepeda ato jalan-jalan.

Bagi saya Risan adalah sahabat yang baik. Dan saya sangat kehilangan dia. Sampai saat ini saya masih mendoakannya semoga sehat dan keluarganya sejahtera.

Kami bersahabat tanpa kepentingan kecuali hanya untuk main bareng. Saya sangat merindukannya dan semoga Allah mempertemukan kami lagi.

Terakhir saya datang ke rumahnya saat sudah bekerja di BPWS. Risan tidak ada di rumahnya karena bekerja. Saya hanya bertemu dengan orangtuanya yang juga saya kenal baik sekali. Tapi anehnya, di kunjungan terakhir saya itu, kedua orangtuanya tidak meneleponkan Risan untuk saya.

Entah kenapa kemudian nomor telepon rumah Risan di Malang kuga akhirnya tidak bisa ditelepon. Mungkin sudah berubah jadi hape tapi saya tidak tahu nomor hape siapa pun di keluarga Risan.

Saya juga sudah coba mencari Risan di media sosial. Hasilnya nihil. Saya kehilangan sahabat yang persahabatan kami terbangun karena sama-sama suka main. Persahabatan yang nggak ada kepentingannya sama sekali. Persahabatan yang murni.

Sekarang persahabatan seperti saya dengan Risan jelas tidak ada. Semua orang punya kepentingan. Saya pun begitu.

Karena Risan inilah saya berjanji akan menjaga teman-teman ato sahabat anak saya. Saya akan membantu proses persahabatan anak saya dan memupuk persabatan supaya tidak kehilangan seperti saya.

Dan saya sendiri akan berusaha menjadi sahabat pertama mereka. Dan sahabat dari sahabat mereka juga. Nyaman banget loh bersahabat dengan sahabat yang orangtuanya menerima kita. (nra)

Written by
Nara Ahirullah
Join the discussion

Instagram has returned empty data. Please authorize your Instagram account in the plugin settings .

Tentang Nara

Nara Ahirullah

Saya tidak pandai bercerita, tapi suka menulis.

Instagram

Instagram has returned empty data. Please authorize your Instagram account in the plugin settings .