Mendorong Desa Tetap Menghasilkan Buah

Mendorong Desa Tetap Menghasilkan Buah

Urbanisasi menyebabkan desa semakin tak berpenghuni. Di sisi lain akhirnya desa makin tak produktif. Sebab, regenerasi pertanian stagnan. Desa yang dulu menghasilkan buah, kian lama hanya menghasilkan tenaga kerja murah.

Dari desa orang-orang datang ke kota untuk mendapatkan pekerjaan. Mereka rela dibayar murah demi mempertahankan hidup di kota. Desa yang tidak memiliki peluang kerja selain pertanian sungguh bukanlah pilihan bagi mereka.

Tanah-tanah di desa akhirnya tak terkelola dengan baik. Menjadi kering, tak terpakai dan kosong. Pekerja-pekerja pertanian di desa kian menua dan tidak akrab dengan teknologi mesin yang dipaksakan pemerintah masuk desa.

Buah-buahan yang dihasilkan dari desa hanya sedikit yang benar-bemar hasil dari budidaya. Pohon-pohon buah di desa adalah peninggalan, warisan petani tua dan sudah tiada. Padahal, tanah-tanah kosong di desa seharusnya bisa dipakai untuk menanam pohon berbuah dengan pola budidaya.

Beruntung ada sejumlah gerakan konservasi sejumlah aktivis dan relawan lingkungan. Mereka berusaha menanami lagi tanah-tanah koaong di desa agar produktif dengan pohon berbuah. Memang tak bisa langsung dipanen dalam 3-5 tahun, tapi itu akan menjaga kita tetap bisa menikmati buah-buahan dari desa 5-10 tahun yang akan datang.

Semoga gerakan tanam pohon berbuah di desa-desa menular pada banyak pihak. Sehingga kita semua masih bisa berharap kepada desa sebagai penghasil buah.

Desa harus tetap dan terus menjadi penghasil buah dan hasil pertanian lainnya. Jangan sampai desa tak menghasilkan apa-apa seperti kota yang hanya menghasilkan sampah karena di sanalah tempat berkumpulnya konsumen.

Kota tidak akan peduli makanan yang mereka peroleh berasal dari mana. Karena mereka hanya peduli membuat uang untuk membeli kebutuhan hidup mereka. Mereka tidak akan peduli apakah desa di dalam negerinya tetap menghasilkan buah atau tidak. Mereka hanya perlu membeli dan menikmatinya.

Jika desa di dalam negeri berhenti menghasilkan buah, maka mereka akan membeli buah dari mana saja yang disajikan penjual. Kota akan semakin bergeliat mengejar harga mahal buah dari luar negeri, sementara desa kian sekarat.

Pada semua yang memiliki desa dan tanah yang bisa ditanami, pulanglah walau sebentar. Tanami tanah yang kalian tinggalkan dengan pohon berbuah. Yang kelak dapat kalian petik dan menjadi hasil dari desa untuk dijual ke kota. (nra)

Written by
Nara Ahirullah
Join the discussion

Instagram has returned empty data. Please authorize your Instagram account in the plugin settings .

Tentang Nara

Nara Ahirullah

Saya tidak pandai bercerita, tapi suka menulis.

Instagram

Instagram has returned empty data. Please authorize your Instagram account in the plugin settings .