Rahasia Anak-Anak yang Tidak Pernah Kepanasan Matahari

Rahasia Anak-Anak yang Tidak Pernah Kepanasan Matahari

Pada terbitan Agustus 2017, Majalah National Geographic (Natgeo) Indonesia melaporkan tentang iklim dan cuaca di dunia. Di salah satu artikelnya ditulis bahwa tahun 2017 adalah tahun terpanas sepanjang sejarah manusia.

Masih dalam artikel yang sama, penulis melaporkan bahwa hasil penelitian menyebutkan bahwa tahun sebelumnya (2016) juga merupakan tahun terpanas sepanjang sejarah dunia. Kemudian diprediksi tahun setelah 2017 bumi akan makin panas. Maka diprediksi, sejak tahun 2018, 2019, 2020, 2021 daaaan seterusnya bumi akan makin hot-hot potato alias panas kentang-kentang.

Benarkah data dan prediksi itu? Bisa jadi, karena pada kenyataannya kondisi semakin panas. Siang hari, panas dari terik matahari makin terasa. Kadang ditambah lagi dengan fenomena-fenomena bumi lagi dekat mataharilah, matahari lagi panas-panasnya-lah, matahari lagi diskonlah dan lain sebagainya. Yang intinya, rasa panas dari sinar matahari makin terasa menyengat.

Bukan cuma itu, kemarau juga makin terasa panjang. Kita tidak pernah mengukur panjang kemarau, tapi rasa makin panasnya matahari memang cenderung membuat kemarau makin terasa lama.

Nah, di antara fenomena iklim, cuaca dan kemarau itu ada pertanyaan di antara para orang dewasa dan punya anak kecil: “Anak-anak masih main saja di luar. Nggak pakai topi, kadang nggak sandalan, apa nggak panas ya??

Inilah salah satu rahasia alam. Di mana ada golongan ciptaan Allah yang tidak merasakan kesamaan rasa seperti orang dewasa soal panasnya matahari. Yaitu, anak-anak.

Baca juga: Duh Makin Tua, Makin Nggak Kuat Ibadah..

Kalau tidak percaya, coba tanya anak-anak yang lagi main di bawah terik matahari. Apakah mereka merasakan panas? Mereka akan menggelengkan kepala masio keringat mengalir dari kepala dan seluruh tubuhnya. Mereka akan bilang “nggak panas” meskipun warna mereka kileng-kileng kayak aspal ketumpahan oli.

Begitulah anak-anak. Mereka tidak merasakan panasnya dunia seperti yang dirasakan orang dewasa dan orang tua. Mereka akan tetap ceria bermain di bawah sinar matahari jam berapa pun. Mau pagi, siang, siang agak sore atau pun sore ‘mereka tetap senang.

Itu bukan cuma dirasakan bocah zaman now saja. Bocah zaman old juga begitu. Coba introspeksi diri Anda sendiri. Waktu kecil Anda main di mana? Apakah di antaranya sebagian besar tempat main luar ruang atau dalam ruang? Pasti outdoor kan… Dan coba ingat-ingat, apakah saat itu Anda merasakan panasnya matahari?? No way, tidak akan.

Tidak ada yang bisa menjelaskan perbedaan rasa anak-anak dengan prang dewasa soal panas matahari, kecuali satu hal. Alasan yang religius, tapi ini yang paling bisa diterima.

Anak-anak tidak merasakan panasnya matahari karena dosa mereka sedikit. Mereka menganggap matahari itu seperti lampu biasa, tidak panas sehingga tetap santai di bawah matahari langsung pada jam berapa pun.

Makin panasnya bumi menguatkan ketentuan Allah tentang hari kiamat. Dan sering disebutkan, orang yang banyak dosa pada Allah akan merasakan matahari berada sejengkal di atas kepalanya. Itu berarti panas sekali. Sementara orang yang bertaqwa akan dilindungi dari panas matahari tersebut.

Anak-anak mungkin memang belum banyak melakulan amal soleh tapi mereka jelas tidak banyak dosanya. Maka itu mereka tidak merasakan panas matahari seperti dalam tanda-tanda kiamat.

Jadi, sungguh orang dewasa atau orang tua sebenarnya tidak perlu risau ketika anak-anaknya suka main di outdoor. Karena insya Allah, panasnya matahari tidak berefek pada mereka. Bahkan, bisa jadi panas matahari itu adalah energi buat mereka. Seperti superman. (nra)

Written by
Nara Ahirullah
Join the discussion

Instagram has returned empty data. Please authorize your Instagram account in the plugin settings .

Tentang Nara

Nara Ahirullah

Saya tidak pandai bercerita, tapi suka menulis.

Instagram

Instagram has returned empty data. Please authorize your Instagram account in the plugin settings .