PRR Satukan Millenial Ponorogo Cintai Lingkungan

PRR Satukan Millenial Ponorogo Cintai Lingkungan

Komunitas Ponorogo Resik-Resik (PRR) memperingati hari jadinya dengan cukup meriah pada Sabtu, 30 November 2019. Komunitas pecinta lingkungan ini menggelar acara di Ponorogo City Centre (PCC) dengan melibatkan pelajar, mahasiswa dan komunitas lainnya.

Untuk menyatukan millenial Ponorogo mencintai lingkungan, PRR mengadakan lomba karya tulis tentang lingkungan dan fashion show recycle dengan peserta pelajar. Di sisi lain namun di tempat yang sama juga digelar sarasehan tentang lingkungan. Di sarasehan ini saya jadi salah satu narasumber sebagai Leader WCD Jatim. Diundang Founder sekaligus Leader PRR, Mbak Eva.

Selain saya juga ada Mas Dian sebagai ketua komunitas literatur yang menggagas angkutan cerdas sekolah (ACS) sekaligus kontributor National Geographic (Natgeo). Saya melihat kalung ID Card Natgeo-nya Mas Dian itu jadi ngiler. Secara Natgeo adalah majalah favorit saya sejak lama sekali dan saya ingin jadi bagian darinya, tapi sampai sekarang belum bisa juga.

Lalu setelah Mas Dian, ada Pak Joko dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Ponorogo. Pak Joko ini yang menyampaikan materinya sebagai narasumber pertama.

Joko bercerita tentang warga Ponorogo yang masih banyak lokasi kotor oleh sampah. Plastik masih ada di mana-mana meski saya lihat kawasan kota sudah bersih. Rupanya, kondisi itu belum cukup bagi tuan rumahnya. Masih banyak titik yang kotor dan perilaku buang sampah sembarangan masih sangat tinggi.

Setelah Joko giliran Mas Dian menjelaskan ide briliannya ACS yang kemudian diapresiasi dan dibiayai oleh Pemkab Ponorogo 1,3 miliar setahun. “Saya bukan fasiliatornya Mas. Saya serahkan ide itu pasa pemerintah, dan pemerintah Ponorogo yang mengeksekusinya. Sekarang ACS mampu mengangkut 1.000 pelajar setiap hari. Sopirnya dibayar 107 ribu per hari termasuk bensin,” kata Dian saat saya mewawancarainya hehehe..

ACS adalah angkutan untuk pelajar gratis karena sudah dibiayai pemerintah. Daripada pelajar SD dan SMP atau SMA naik sepeda motor, mereka diarahkan untuk naik ACS yang dimodifikasi dari mobil angkot.

Dimodifikasi?? Iya dimodifikasi menjadi bukan hanya sekadar angkutan sekolah, tapi juga mencerdaskan. Karena di dalam ACS itu ada perpustakaan. “Di dalam ACS tidak ada komik, tapi juga tidak ada buku ensiklopedia yang tebal. Semua buku menengah yang bisa dibaca dalam perjalanan ke sekolah dan pulang sekolah,” terang Dian.

Nah, pas giliran saya menyampaikan materi waktu jadi terasa panjang. Karena saya cerita tentang sejarah plastik, pergerakan melawan sampah, regulasi persampahan sampai pada menentukan posisi dan apa yang harus dilakukan supaya semua yang hadir bisa berkiprah menjaga lingkungan.

“Intinya: too much love or hate will kill you. Dulu plastik begitu dicintai karena menyelamatkan banyak pepohonan dari pembuatan kantong kertas dan sebagainya. Sekarang, plastik sudah terlalu banyak’ sehingga dibenci karena merusak lingkungan,” kata saya pada audiens.

Sejarah plastik sangat panjang dari tahun 1862, 1907, 1933 dan 1974 semuanya dengan ide: menyelamatkan lingkungan. Karena plastik bisa dipakai berulang-ulang.

Dari 1977 plastik diproduksi massal. Menghasilkan keuntungan besar lalu berubah menjadi masalah lingkungan sejak Jenna Jambeck, peneliti lingkungan dari Amerika bilang: Indonesia pembuang sampah terbesar kedua di dunia setelah Cina.

Jenna merilis hasil penelitian itu pada 2015. Maka sejak itu perlawanan sampah dimulai oleh para aktivis dan pemerhati lingkungan. Sayangnya mereka- mereka itu bergerak seperti orang latah saja. Yah termasuk saya juga sih hahahaha. ..

Kenapa saya bilang ikut-ikutan? Sebab, pemerintah ternyata sudah punya regulasi yang sangat holistic, komprehensif dan suistan tentang pengelolaan sampah. Mestinya para aktivis lingkungan dan pemerhati lingkungan ini mengarah ke penegakan regulasi itu.

Masalahnya, ternyata kebanyakan aktivis dan pemerintah daerah tidak tahu soal regulasi itu. Saya juga sebenarnya baru tahu dan ide dalam regulasi-regulasi itu sangat relevan dengan apa yang sering didengung-dengungkan ekonomi biru atau hijau. Yaitu, circular economy.

“Terlalu bagus regulasi yang sudah ada itu untuk kita tidak pakai sebagai solusi pengelolaan sampah. Secara teknis harus dipelajari lebih dalam lagi sehingga target 10% residu masuk TPA pada 2025 bukan impian,” tegas saya ke audiens.

Saya bersemangat sekali menyampaikan materi karena di awal, semua pertanyaan saya pada audiens tentang sejarah plastik, pergerakan melawan sampah, regulasi persampahan tidak ada yang menjawab. Asumsi saya agak benar, banyak aktivis dan pemerintah daerah tidak baca regulasi persampahan. (nra)

Written by
Nara Ahirullah
Join the discussion

Instagram has returned empty data. Please authorize your Instagram account in the plugin settings .

Tentang Nara

Nara Ahirullah

Saya tidak pandai bercerita, tapi suka menulis.

Instagram

Instagram has returned empty data. Please authorize your Instagram account in the plugin settings .