Resolusi Persampahan Tahun 2020 yang Harus Terwujud

Resolusi Persampahan Tahun 2020 yang Harus Terwujud

“Bumi makin tua: produksi, konsumsi dan beban sampah ikut bertambah.”

Selamat tahun baru!!!
Akhirnya kita semua sampai pada tahun dengan kombinasi angka cantik, 2020. Kata resolusi mungkin sudah agak basi kita bicarakan. Tapi kita tetap harus punya resolusi.

Nah, tahun ini kita bicara resolusi persampahan yuk.

Kita mulai dari populasi manusia. Alhamdulillah bumi kita dan negara-negara yang ada di dalamnya mayoritas dalam keadaan damai. Perang-perang besar yang bisa menjadi penyebab berkurangnya populasi manusia tidak terjadi.

Wabah penyakit menular yang berbahaya juga relatif tidak ada. Bencana alam yang menyebabkan kematian besar juga semoga tidak pernah ada. Dan itu semua berarti populasi manusia tidak akan banyak berkurang kecuali karena kematian acak dengan berbagai sebab.

Konsekuensi populasi manusia yang tidak berkurang namun terus bertumbuh dan semakin besar adalah pertambahan konsumsi. Mau tidak mau produksi juga harus mengimbanginya.

Sebagaimana produksi dan konsumsi yang kian meningkat maka dampak selanjutnya adalah volume sampah. Sampah sebagai sisa dari konsumsi organik maupun anorganik akan meningkat bersamaan dengan populasi manusia, perbaikan infrastruktur juga akan memperluas kemerataan konsumsi.

Sampah yang dulu mayoritas terjadi di kota-kota, dengan perbaikan infrastruktur akan meluas ke desa dan pelosok. Positifnya adalah perbaikan di bidang ekonomi. Negatifnya adalah timbulan sampah yang makin luas.

Maka resolusi 2020 yang perlu kita kemukakan saat ini tidak hanya soal pertumbuhan ekonomi, tapi juga mengenai penanganan sampahnya. Yang terbaik dari upaya penanganan sampah adalah pengelolaan sampah yang benar.

Bagaimana pengelolaan sampah yang benar? Kita akan kembali kepada solusi lama yang sering didengar. Yaitu, pembatasan (reduce), daur ulang (recycle) dan pemanfaatan kembali (reuse). Tetap 3R itu jalan keluar terbaiknya.

Bumi yang semakin tua, konsumsi yang meningkat, produksi yang harus mengejar kebutuhan konsumsi, distribusi barang yang kian luas harus diimbangi dengan 3R yang benar dan massif. Kita tidak bisa lagi bergantung pada tempat pembuangan akhir (TPA).

Di beberapa tempat yang masih memiliki lahan kosong untuk TPA mungkin masih bisa jadi solusi. Tapi sampai kapan solusi angkut-buang akan mengobati persoalan sampah? Tidak akan lama.

Maka sebaiknya, daerah-daerah yang belum dan sudah bermasalah dengan sampah sebaiknya di awal tahun ini segera merencanakan penanganan sampah yang komprehensif dengan sistem 3R. Agar masyarakat di daerah tersebut segera terbiasa dengan sistem tersebut. Terutama di desa-desa dan pelosok. Kuncinya sosialisasi dan pendampingan.

Pemerintah, Aktivis dan Produsen Harus Kompak Urus Sampah

Di sisi produksi, sebaiknya para produsen juga mulai berpikir untuk melahirkan produk berbasis 3R. Sehingga perputaran ekonomi dari produk itu tidak berakhir di TPA.Pemerintah yang dalam hal persampahan memiliki kebijakan pengelolaan sebaiknya segera merapatkan barisan. Memanggil semua pihak yang berkaitan dengan masalah sampah. Lahirkan circular economi dari sampah. Dan berlakukan kebijakan extended product responsibility (EPR)/ tanggung jawab sisa produk.

Aktivis dan para pemerhati sampah juga mesti berbenah. Tidak hanya menyatakan antiplastik-antisterofoam-antisedotanplastik-antipampers-antipembalut-darurat sampah dan lain-lain. Tapi juga wajib membangun kolaborasi dengan sesama kelompok aktivis, membangun kesadaran masyarakat, bekerja sama dengan pemerintah dan gayeng dengan produsen.

Harapannya, kolaborasi semua pihak dalam hal persampahan dapat menjalankan sistem 3R. Berbagai negara sudah membuktikan bahwa sistem 3R yang berjalan baik dapat mengatasi masalah lingkungan utamanya persoalan sampah. (nra)

Written by
Nara Ahirullah
Join the discussion

Tentang Nara

Nara Ahirullah

Saya tidak pandai bercerita, tapi suka menulis.

%d blogger menyukai ini: