Krisis Shalat Khusuk: Anak-Anak di Masjid yang Disalahkan

Krisis Shalat Khusuk: Anak-Anak di Masjid yang Disalahkan

“Termasuk tata krama para nabi adalah memuliakan anak-anak”

Di suatu shalat Ashar dengan cuaca agak mendung, seorang ayah mengajak anaknya yang masih balita ke masjid. Saat iqamah dikumandangkan ayah muda itu membimbing anaknya usia sekitar 2 tahun berdiri di sampingnya pada shaf terdepan.

“Pak di samping saja kalau bawa anak. Daripada nanti mengganggu jamaah yang lain. Atau di belakang saja,” kata sang Imam shalat. Menurut saya perintah Imam ini cukup keras. Beruntung si ayah muda itu tidak keluar dan membanting pintu masjid. Saya hanya bisa istighfar.

Lelaki berkaos Star Wars yang seragam dengan anaknya itu lalu menggandeng anaknya. Pindah dan menempati barisan ketiga bersama anaknya, dekat tembok. Perpindahan itu diikuti pandangan mata jamaah lain.

Entah pandangan itu bermuatan iba atau sinis. Karena pasti ada prokontra dalam hati para jamaah itu. Ada yang kasihan pada si ayah dan anaknya karena “diusir” dari shaf depan. Ada yang sinis karena si ayah muda dianggap tak tahu diri membawa anaknya yang berpotensi mengganggu kekhusukan shalat di shaf pertama. Ada pula yang senang dengan ketegasan Imam.

Tapi yang hampir pasti adalah ‘sang imam sepertinya gampang terganggu kekhusukannya. Dan menganggap jamaahnya juga bakal terganggu khusuknya hanya karena diganggu anak kecil.

Shalat berjamaah pun dilaksanakan. Seperti diprediksi, ketika shalat dilaksanakan si anak pun lepas. Dia berjalan dan berlarian di sepanjang shaf bolak balik sampai shalat selesai.

Pada akhir shalat tangan si kecil itu menyentuh pundak saya. Saya merasa disentuh malaikat.

Usai shalat saya segera berdoa, semoga Allah menganugerahkan kepercayaan dan kekayaan pada saya. Sehingga saya bisa membangun masjid memuliakan anak-anak.

Bukan hanya ramah pada anak-anak, tapi memuliakan anak-anak yang diajak orang tuanya ke masjid atau anak-anak yang datang sendiri ke masjid. Sungguh mereka adalah penerus agama Allah ini.

Anak-Anak Dianggap Pengganggu Ibadah

Kebetulan saya nyantri online pada Gus Baha’ (KH. Bahaudin Nursalim). Salah satu hal yang membekas pada hati saya yaitu tentang tata krama nabi yang memuliakan anak-anak. Rasulullah Muhammad Sallawwahu alaihi wassalam juga sangat mencintai anak-anak.

Sesungguhnya sudah sangat banyak riwayat yang menjelaskan betapa Nabi dan Rasulullah sangat mencintai dan memuliakan anak-anak. Namun masih saja ada orang yang menganggap anak-anak sebagai pengganggu dalam ibadah. Masya Allah

Padahal telah jelas, anak-anak dari orang muslim adalah penerus agama Islam. Jika mereka tidak diterima, tidak didukung dan tidak dimuliakan dalam agama, bisa-bisa mereka tercerabut dari Islam. Naudzubillah min dzalik.

———————————————————

Usai shalat saya mendekati ayah muda yang tadi. “Saya dari Sedati Mas. Sampeyan tadi dengar ya (waktu disuruh pindah dari shaf depan karena bawa anak)?” tanya dia. Saya membalasnya dengan anggukan.

“Saya ajak anak shalat supaya dia terbiasa. Malah disuruh pindah seperti itu,” tambahnya.

Kepada ayah muda itu saya merekomendasikan masjid yang layak dan ramah anak. “Kalau di Masjid Ash-Shoobiriin, insya Allah tidak ada kondisi seperti tadi,” kata saya.

Semoga Allah mengabulkan doa saya membangun masjid yang dapat memuliakan anak-anak. Supaya saya bisa ajak mereka belajar menjaga lingkungan juga. Aamiin.. (nra)

Written by
Nara Ahirullah
Join the discussion

Tentang Nara

Nara Ahirullah

Saya tidak pandai bercerita, tapi suka menulis.

%d blogger menyukai ini: