Melarang Plastik: Menteri Pendidikan Tidak Terdidik Soal Sampah

Melarang Plastik: Menteri Pendidikan Tidak Terdidik Soal Sampah

“Hai Pak Menteri Pendidikan, tahukah Anda: banyak anak-anak yang bertahan sekolah karena plastik ???”

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengeluarkan Surat Edaran (SE) Nomor 12 Tahun 2019 yang isinya pelarangan plastik. Dia seperti ketularan tren melarang plastik tanpa tahu lebih dulu seluk beluk sampah.

Dalam surat edaran itu Nadiem secara explisit menyatakan masalah lingkungan di Indonesia ini disebabkan oleh plastik “saja”. Sehingga, penggunaan plastik lah yang harus dilarang. Pertama kali membaca berita tentang pelarangan plastik oleh Nadiem, saya langsung tevok jidat.

Karena dengan kebijakan itu Nadiem seolah memberi tahu banyak orang tentang betapa tidak terdidiknya dia sebagai menteri pendidikan. Terutama dalam hal persampahan. SE yang dikeluarkannya sebagai menteri sama sekali tidak berkelas.

Tapi tak apalah, Nadiem memang menteri muda yang di pergaulan politik jelas masih hijau. Asal ada yang membisikinya sesuatu, dia akan melakukannya. Apalagi soal sampah plastik yang sedang ramai dibicarakan sebagai penyebab banjir di mana-mana.

Nadiem mungkin mengira kebijakan pelarangan plastik akan viral dan bikin dia naik daun di mata rakyat terutama pecinta lingkungan. Padahal sebaliknya, justru kebijakannya itu bisa bikin dia mati kutu dalam politik kerakyatan.

Menteri Nadiem ini harus dibina bersama-sama. Setidaknya agar bisa sedikit dewasa sebelum mengambil keputusan publik. Soal sampah saya merasa berkewajiban untuk ikut berkontribusi informasi untuknya… hehehe.

Begini Pak Menteri. Masyarakat Indonesia ini di antaranya sangat banyak juga yang hidup dari industri plastik. Jangan kira anak-anak sekolah di Indonesia ini cuma berasal dari keluarga yang orang tuanya bekerja di Gojek saja.

Ada sangat banyak orang Indonesia hidup dan menyekolahkan anaknya dari industri plastik. Iya plastik yang jadi bahan helm Gojek, plastik es dan sedotan minum Gojek, kantong plastik makanan Go-food dan lain-lain.

Sebab, industri plastik di Indonesia ada sejak 1980-an. Sejak rezim orde baru membuka kran investasi di Indonesia. Kemudian banyak tumbuh industri plastik di seluruh Indonesia.

Industri ini membuka lapangan kerja yang sangat besar. Lingkaran industri plastik pun berjalan. Ada sektor produksi, distribusi, konsumsi dan daur ulang. Puluhan juta orang terlibat dalam industri ini untuk menyekolahkan anak-anaknya.

Nadiem mungkin sedang punya rencana memindahkan puluhan juta orang yang bergerak di lingkaran industri plastik itu ke Gojek semua. Kalau Nadiem sedang berorientasi pada bisnis Gojek-nya saya tidak bisa menyalahkannya. Itu bagian dari mempertahankan bisnis Gojek.

Tapi Nadiem harus berhenti sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Kemudian silahkan bertarung secara gentleman business to business dengan industri plastik. Jangan pakai fasilitas menteri untuk mematikan industri plastik.

Dalam hal ini saya bukan bermaksud membela industri plastik. Saya sedang membela orang-orang kecil yang bekerja dan hidup dari industri plastik di sektor produksi, distribusi, konsumsi dan daur ulang.

Tapi kalau ternyata Nadiem tidak bermaksud mematikan industri plastik dan bertujuan menyelamatkan lingkungan, dia tetap harus belajar soal sampah.

Begini Pak Founder Gojek eh Pak Menteri, persoalan sampah itu bukan disebabkan plastik. Masalah sampah di Indonesia ini disebabkan oleh perilaku dan budaya buang sampah sembarangan. Ditambah lagi dengan lemahnya pemerintah dalam melaksanakan regulasi pengelolaan sampah.

Sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Ente seharusnya memiliki peranan yang besar untuk mengubah budaya buang sampah sembarangan dan lemahnya pelaksanaan regulasi itu. Bukan hanya mengeluarkan SE remah – remah rengginang melarang penggunaan plastik.

Untuk mengubah budaya jelek dan lemahnya pelaksanaan regulasi pengelolaan sampah itu mudah. Baca Undang Undang No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah (UUPS).

Selanjutnya, didiklah semua rakyat dan pihak di Indonesia untuk memahami budaya yang ada dalam UUPS itu. Dan budayakan lah agar semua orang di Indonesia melaksanakan pengelolaan sampah dalam UUPS tersebut.

UUPS itu adalah win win solution pengelolaan sampah di Indonesia. Menyelamatkan lingkungan tanpa mengorbankan kepentingan ekonomi siapa pun dalam lingkup persampahan dan plastik.

Seperti saya sering tulis sebelum-sebelumnya. Bagi siapa saja yang membuat aturan pelarangan plastik, kalian semua terlambat. Karena sudah telanjur banyak sekali orang hidup dari industri plastik. Andai kalian melarang plastik sebelum plastik merajalela di Indonesia , itu masih masuk akal.

Percayalah, solusi sampah plastik dan sampah apapun adalah pengelolaan yang benar. Dan itu sudah ada semua di UUPS. (nra)

Written by
Nara Ahirullah
Join the discussion

Instagram has returned empty data. Please authorize your Instagram account in the plugin settings .

Tentang Nara

Nara Ahirullah

Saya tidak pandai bercerita, tapi suka menulis.

Instagram

Instagram has returned empty data. Please authorize your Instagram account in the plugin settings .