10 Catatan dari Diskusi Pengelolaan Sampah di Bangkalan

10 Catatan dari Diskusi Pengelolaan Sampah di Bangkalan

“Gotong royong, waste management dan koperasi adalah solusi pengelolaan sampah”.

Pada Selasa malam, 28 Januari 2020 komunitas lingkungan Bangkalan Olah Sampah (BOS) mengadakan diskusi lintas stakeholder dan organisasi di Aula Dinas Perhubungan Bangkalan. Diskusi itu menghadirkan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bangkalan, Yoyonk Nara sebagai Founder BOS, Wahyudi Sulistya dari PT Kemasan Ciptatama Sempurna dan Asrul Hoesein yang merupakan Direktur Green Indonesia Foundation (GIF).

Diskusi itu dihadiri kurangi lebih 100 orang bukan hanya dari Kabupaten Bangkalan tapi juga dari Mojokerto, Pasuruan, Surabaya dan Sampang. Dialog dan penyamaan persepsi itu berlangsung hingga hampir tengah malam.

Dari diskusi itu sedikitnya ada 10 catatan diskusi dan agenda pengelolaan sampah di Bangkalan ke depan. Yang semuanya harus dikerjakan secara gotong royong oleh semua pihak yang hadir maupun yang tidak hadir di dalam kegiatan tersebut.

1. Penegakan hukum persampahan

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Bangkalan Emanuel Ahmad mengatakan soal penegakan hukum persampahan harus dilakukan saat mewakili Bupati Bangkalan memberi sambutan dan membuka acara diskusi itu. Menurut dia, persoalan sampah tidak hanya bisa diselesaikan dengan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang lingkungan. Tetapi juga harus didorong dengan penegakan regulasi. Yakni memberi sanksi tegas bagi siapa saja yang melanggar regulasi persampahan.

2. Potensi sampah makin cerah

Saat menyampaikan materi narasumber dalam diskusi itu, Kepala DLH Bangkalan, Hadari mengatakan Kabupaten Bangkalan sedang berupaya memperbaiki pengelolaan sampahnya dengan menjadikan sampah sebagai potensi ekonomi bagi masyarakat. Yakni dengan mengembangkan bank sampah yang pembentukannya akan massif dilakukan di kelurahan dan desa-desa bersama dengan BOS sebagai lembaga yang akan berkolaborasi dengan DLH Bangkalan.

3. Pelaksanaan pengelolaan sampah kawasan

Founder BOS, Yoyonk Nara menyatakan BOS adalah komunitas terbuka bagi siapa pun yang mendorong upaya pengelolaan sampah lebih baik. Dia berpegang teguh pada Undang Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah (UUPS). Utamanya pasal 13 yang titik tekannya pada pengelolaan sampah kawasan. Nara juga menekankan soal extended producer responsibility (EPR) yang akan dilaksanakan pada 2022 serta menjelaskan tentang bank sampah. Yaitu bank sampah yang berfungsi sebagai social engineering (perekayasa sosial) masalah sampah dan fungsi ekonomi yang harus dipisahkan dari bank sampah itu.

4. Banyak info menyesatkan soal styrofoam

Owner PT Kemasan Ciptatama Sempurna, Wahyudi Sulistya kepada seluruh peserta menjelaskan tentang produk kemasan styrofoam yang selama ini banyak dilarang oleh pemerintahan daerah. Dijelaskan, faktanya tidak ada satu pun negara yang melarang penggunaan styrofoam food grade karena alasan kesehatan.

Di Indonesia, BPOM pun menyatakan styrofoam food grade aman sebagai wadah atau kemasan makanan. Menariknya, Wahyudi memiliki fakta bahwa di daerah-daerah yang melarang styrofoam itu justru ada tren peningkatan pemakaian styrofoam food grade sebagai wadah atau kemasan makanan.

Selama ini styrofoam dilarang karena persoalan lingkungan dan dianggap menjadi penyebab banjir. Padahal styrofoam sangat bisa didaurulang. Untuk itu Wahyudi mendorong supaya masyarakat membentuk bank sampah yang dapat mengumpulkan styrofoam untuk dijual sebagai material daur ulang di mana pihaknya siap membeli.

5. Pendanaan pengelolaan sampah dari sektor swasta

Narasumber pakar regulasi persampahan dan waste management Asrul Hoesein menjelaskan selama ini masalah sampah tidak pernah terselesaikan karena regulasi tidak ditaati. Padahal Indonesia memiliki regulasi yang sangat baik dan komprehensif untuk menyelesaikan masalah sampah. Jika sampah dikelola berdasarkan regulasi maka pengelolaan sampah dapat membiayai dirinya sendiri.

Untuk itu Asrul berharap di Bangkalan pengelolaan sampah dapat dijalankan sesuai regulasi. Dia mengajak Kapolres Bangkalan dan Kajari Bangkalan serta penegak hukum lain dapat turut memperhatikan masalah sampah.

Di sisi lain Asrul menegaskan agar Pemerintah Bangkalan tidak kecil hati karena anggaran pengelolaan sampahnya kecil. Sebab, ada anggaran yang bisa diperoleh dari sumber lain di Pemerintah Pusat dan sektor swasta. Bahkan sektor swasta inilah yang bisa memberikan banyak bantuan jika pemerintah daerah mampu mengelolanya dengan baik dengan perangkat yang relatif lengkap.

Misalnya, bank sampah social engineering yang nantinya akan mendampingi dan membina masyarakat mengelola sampah dan mendorongnya menjadi material daur ulang.

6. Fungsi bank sampah sebagai social Engineering

Menurut Asrul Hoesein, sejak diterbitkannya Permen LHK Nomor 13 Tahun 2012 tentang Pedoman 3R melalui Bank Sampah (BS), maka BS seharusnya bertindak sebagai social engineering atau perekayasa sosial di tengah masyarakat dalam persoalan sampah. BS seharusnya tidak lagi berperan konvensional seperti sebelum Permen LHK terbit.

Sesungguhnya, lanjut Asrul’ BS dapat menjadi pendamping masyarakat dengan fungsi edukasi, sosialisasi dan mapping. Sehingga, potensi sampah yang timbul dan harus dikelola dapat terdeteksi untuk dimaksimalkan sebagai material daur ulang organik maupun anorganik. Membereskan persoalan sampah dapat dilakukan dengan membentuk bank sampah social engineering di semua kelurahan/desa di seluruh kabupaten kemudian dibentuk jejaring.

7. Jalan keluar penjualan sampah daur ulang

Seorang peserta dari Pondok Pesantren Nurul Cholil Bangkalan menyampaikan selama ini pihaknya sudah melakukan pemilahan sampah. Namun, setelah dipilah ‘pihaknya kebingungan untuk menjual material kantong plastik.

Menjawab pertanyaan itu, Wahyudi Sulistya yang juga merupakan Sekretaris Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI) menyatakan akan membantu mencari jalan keluar. Yaitu, dari anggota ADUPI yang bergerak di sektor daur ulang kantong plastik.

8. Penanggulangan sampah pesisir

Seorang peserta dari Kecamatan Kwanyar, menyampaikan keluhannya tentang banyaknya sampah di pesisir. Sehingga warga yang sudah kepalang terbiasa dengan kondisi tersebut akhirnya ikut membuang sampah ke pesisir.

Menanggapi keluhan itu, Asrul menegaskan agar dibentuk bank sampah di desa-desa pesisir. Hanya bank sampah dengan fungsi social engineering yang kemudian ditangkap oleh mitra bank sampah selaku pebisnis material daur ulang yang bisa menjadi solusi.

9. Pembentukan tim multistakeholder Bangkalan Bebas Sampah

Menyelesaikan sampah di Bangkalan tidak bisa dikerjakan satu per satu pihak. Gotong royong adalah kunci keberhasilan mengelola sampah. Dari kebersamaan itu nanti akan muncul waste management yang bisa disepakati dan dikerjakan bersama di samping penegakan regulasi yang berkaitan.

Asrul mengusulkan agar di Bangkalan segera dibentuk tim multistakeholder yang melibatkan pemerintah, penegak hukum, komunitas, masyarakat, akademisi, praktisi, media dan swasta yang saling melengkapi. Kesemuanya kelak akan membuat blue print pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir beserta target yang ingin dicapai. Yaitu mewujudkan Bangkalan bebas sampah.

10. Pembentukan Koperasi Pengelola Sampah

Bank sampah yang dibentuk dengan fungsi edukasi, sosialisasi dan mapping selanjutnya akan melahirkan potensi ekonomi daur ulang. Namun, bukan bank sampah yang akan menjalankan keekonomian tersebut.

Keekonomian material daur ulang akan dijalankan oleh koperasi pengelola sampah yang menjadi rumah bisnis bersama bank sampah, masyarakat dan pengelola sampah lainnya. Waste management akan disambut dengan koperasi pengelola sampah sehingga semakin kecil sampah yang dibuang ke TPA dan sebagian besarnya menjadi material daur ulang.

Koperasi pengelola sampah kelak akan menjadikan seluruh produsen sampah dan pengelola sebagai anggotanya. Keuntungan akan diperoleh tidak hanya dari transaksi keekonomian sampah yang menjadi material daur ulang, tapi juga akan diperoleh dari sisa hasil usaha (SHU) di setiap akhir tahun. Dengan begitu, persoalan sampah akan selesai secara bertahap hingga paradigma masyarakat berubah menjadikan sampah sebagai berkah. (nra)

Written by
Nara Ahirullah
Join the discussion

Tentang Nara

Nara Ahirullah

Saya tidak pandai bercerita, tapi suka menulis.

%d blogger menyukai ini: