Bagaimana Kalau Pabrik Plastik Ditutup Saja ??

Bagaimana Kalau Pabrik Plastik Ditutup Saja ??

“Manusia yang buang plastik sembarangan, plastik yang disalahkan”

Konon, sampah dari semua pasar di DKI Jakarta mencapai 600 ton setiap harinya. Konon lagi, dari jumlah itu 40-50 persennya adalah kantong plastik sekali pakai. Itu semua (tanpa konon) disampaikan Direktur Utama Perusahaan Umum Daerah Pasar Jaya Jakarta, Arief Nasrudin.

Dipakai kata “konon” karena sepertinya Arief Nasrudin sedang berasumsi tentang jumlah sampah dan kantong plastik seperti yang disampaikan ke media bebas.kompas.id itu. Data itu mesti dikroscek.

Tapi bagaimana jika data itu benar ??
Ya bagus kalau data itu benar. Berarti info yang diterima Bos Pasar se DKI Jakarta itu valid. Sehingga targetnya untuk mengurangi sampah pasar se DKI Jakarta hingga 50 persen dengan cara melarang penggunaan kantong plastik full pada 1 Juli 2020 nanti ‘juga bisa benar.

(((Benar-benar ngawur !!! wkwkwkwk..)))

Ternyata belakangan sepertinya ada kepentingan bisnis menjual kantong lipat seharga Rp 15.000 – 20.000. Inilah yang namanya bisnis terselubung untuk menggeser bisnis lainnya. Di dunia perplastikan ini sangat biasa terjadi.

Begini saudara-saudara, kantong plastik itu memangnya bisa jalan sendiri ya ke tempat sampah. Nggak, kantong – kantong plastik itu tidak bisa jalan sendiri dan membuang dirinya sendiri sebagai sampah.

Kantong-kantong plastik itu jadi sampah karena manusia yang buang. Dan buangnya sembarangan pula sehingga jadilah sampah kantong plastik sebagai masalah. Ini juga terjadi pada sedotan plastik dan PS Foam alias styrofoam.

Nah, menariknya… Pemerintah tidak pernah kemudian menyatakan bahwa kantong plastik, sedotan dan PS Foam adalah produk yang bisa didaurulang. Sehingga mereka kemudian meningkatkan upaya edukasi pada masyarakat agar kantong plastik maupun sedotan plastik dan PS Foam tak dibuang sembarangan.

Bersihkan, simpan, jual. Bahkan, jika benar cara membersihkannya,  kantong plastik, sedotan plastik dan PS Foam sebenarnya bisa dipakai lagi. Orientasi ini hanya bisa dibangun dalam Waste Management. Tidak ada kata “buang” dalam Waste management, kecuali untuk residu.

Namun kelihatannya fokus pemerintah bukan pada mengupayakan waste management  pada rakyat. Mereka lebih suka melakukan pelarangan. Apalagi setelah melarang kemudian ada bisnis penggantinya.

Untuk kasus kantong plastik misalnya, banyak loh yang tanya ‘kenapa hanya melarang kantong plastik? Kan yang dari bahan plastik bukan hanya kantong plastik? Apa karena produsen kantong plastik itu hanya pabrik-pabrik skala UKM? Atau karena produsen kantong plastik tidak bisa melawan?’

Iya juga yah… Padahal kan banyak banget barang dibuat dari plastik. Termasuk handphone di tangan kita, body sepeda motor, sepatu, baju, kipas angin, AC, kulkas, lemari, isi bantal/guling dakon, botol, tupper**re, tas, kemasan makanan dan banyak lagi lainnya.

Semua pertanyaan itu muncul karena pelarangan kantong plastik dianggap tidak adil. Dan yang terutama sekali, tampaknya pemerintah sedang mencari jalan mudah untuk keluar dari tudingan “mereka gagal mengedukasi masyarakat”. Sehingga isu larang ini dan itu kemudian muncul dan massif untuk menutupi kegagalan edukasi.

Sesungguhnya pemerintah bukan gagal dalam berupaya mengedukasi masyarakat soal lingkungan dan sampah. Hanya tidak konsisten saja. Beragam cara dilakukan, tapi sangat bervariasi. Tidak ada satu pun yang ajeg sampai berhasil.

Inovasi dalam berupaya menyelesaikan sampah itu tentu sangat baik dan perlu dilakukan. Terutama dalam urusan sampah plastik. Tapi ada satu cara yang belum pernah dilakukan pemerintah untuk membereskan sampah plastik itu.

Yaitu, menutup semua industri yang mengandung plastik di seluruh Indonesia. Tapi, langkah ini hanya bisa dilakukan jika upaya menjalankan waste management juga gagal.

Pemerintah belum pernah gagal dalam waste management. Karena memang belum pernah membuat waste management. Sehingga tidak ada alasan kuat untuk menutup pabrik-pabrik plastik.

Kalau edukasi gagal, waste management juga gagal, tidak salah kalau semua pabrik produsen plastik ditutup. Dijamin, tidak akan ada lagi sampah plastik di Indonesia. Kalau masih ada juga, maka patut diduga itu sampah plastik impor.

Ayo, berani nggak nutup semua pabrik barang plastik? (nra)

Written by
Nara Ahirullah
Instagram has returned empty data. Please authorize your Instagram account in the plugin settings .

Tentang Nara

Nara Ahirullah

Saya tidak pandai bercerita, tapi suka menulis.

Instagram

Instagram has returned empty data. Please authorize your Instagram account in the plugin settings .