Membayangkan Sampah Indonesia Tanpa Asrul Hoesein

Membayangkan Sampah Indonesia Tanpa Asrul Hoesein

“Pemilik kunci solusi sampah Indonesia.”

Ada banyak orang menyatakan tata kelola sampah Indonesia carut marut. Lalu membuat solusi yang aneh-aneh. Tidak berdasar regulasi, bahkan mengangkangi regulasi itu.

Asrul Hoesein punya solusinya. Dituangkan dalam buku dan disesuaikan dengan puluhan regulasi tentang sampah. Terutama UUPS.

Dengan dasar regulasi UUPS dan lainnya, Asrul Hoesein mengungkap berbagai dugaan penyelewengan pengelolaan sampah. Sepertinya tidak berlebihan jika saya menganggapnya sebagai kunci persampahan Indonesia.

Mari membayangkan persampahan Indonesia tanpa Asrul Hoesein. Seorang yang banyak tahu rahasia persampahan.

Tapi, siapa nanti yang akan mengoreksi kelemahan dan kesalahan pengelolaan sampah Indonesia?

Siapa yang akan memprotes monopoli pengelolaan sampah?

Siapa yang akan mengembalikan ruh regulasi dalam waste management Indonesia? Sementara semua orang lebih memilih ABS (asal bapak senang) dan AIS (asal Ibu Menteri Senang).

Mungkinkah Tuhan mempercayakan kunci solusi sampah Indonesia pada orang selain Asrul Hoesein? “Anak kampung yang dongo dari Bone.”

______________________________________

Mengharamkan Bisnis Sampah

Selalu ada kesan di jumpa pertama. Dengan Asrul Hoesein ini, kalimat yang saya tangkap pertama kali, “Haram hukumnya jika saya berbisnis sampah.”

Pemahaman saya tentang bisnis sampah hanya selevel pemulung dan tengkulak rongsokan. Saya sendiri penggerak sosial. Yang cinta keadaan bersih. Memang tidak bisnis sampah.

Mendengar kata Pak Asrul, bisnis sampah sepertinya lebih tinggi levelnya dari pengetahuan saya. Dan memang itu yang ingin saya ketahui. Yaitu, saat diajak Nurcholis, Leader WCD Kabupaten Lumajang, ikut acara sosialisasi Primer Koperasi Pengelola Sampah (PKPS) di Surabaya. Idenya Pak Asrul.

Di acara itulah Pak Asrul menerangkan soal regulasi sampah. Sederhana, ringkas dan lugas. Kalimat haram baginya untuk berbisnis sampah ‘keluar berkali-kali. Mempertegas sikap itu pada semua yang hadir.

Di sela pertemuan, saya berkenalan Muhammad Fatkhur Rosi. Pengusaha daur ulang plastik Surabaya. Dari pria inilah saya bisa menemui Pak Asrul lagi setelah acara.

Dua hari kemudian.

Saya menemui pria asal Bone, Sulawesi Selatan itu di homestay. Dari sini semua berawal.

Saya diinsafkan dari sikap kebodohan naif tentang kepedulian lingkungan. Masalah sampah bukan hal sederhana. “Saya sudah 15 tahun menggeluti sampah Dek. Kamu boleh percaya, boleh tidak,” katanya pada saya.

Pak Asrul mulai “menggarap” saya dengan Undang Undang No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah (UUPS). “Masalah sampah akan selesai kalau Pasal 13, 44 dan 45 UUPS dijalankan. Paham kau Dek?” sergahnya.

“Kalau tidak paham kau tanya saya. Jangan bilang paham padahal kau tidak paham. Jangan pintar-pintar tapi bodoh. Banyak yang seperti itu,” sambungnya.

Diskusi itu berlanjut sampai malam. Sampai dini hari. Saya berkali-kali ditertawakan karena antiplastik, bawa tumbler dan suka bikin kegiatan sosial lingkungan yang tidak jelas hasilnya.

Sejak itu saya berhenti bawa tumbler, berhenti melarang penggunaan plastik dan memahami waste management. Pengelolaan sampah harus menuju circular economy.

Saya tinggalkan tren lugu bawa sedotan besi, bawa tas reusable hingga pakai plastik biodegreable. Semua itu omong kosong !!!

Lalu, saya diberi buku tulisan Pak Asrul yang ditandatangani. Saya dimasukkan ke grup whatsapp (WA) diskusi buku itu. Di dalam grup itu banyak pejabat kementerian dan aktivis lingkungan hebat-hebat.

Saat diskusi, Pak Asrul kerap membeberkan perjalanan hidupnya bergelut dengan sampah. Mulai dari bisnis hingga perjuangannya menata pengelolaan sampah.

Memilih mengabdikan hidupnya untuk pengelolaan sampah, Pak Asrul mantap meninggalkan bisnis. “Saya tinggalkan bisnis sampah. Supaya orang berhenti berpikir bahwa saya mau menata sampah Indonesia untuk kepentingan bisnis,” tegasnya.

Saya punya kesamaan dengan Pak Asrul. Sama-sama jurnalis dan penulis.

Sudah ratusan tulisan Pak Asrul di kompasiana.com. Semuanya berisi kasus lingkungan terutama masalah sampah.

Beberapa tulisan dibahas Pak Asrul kalau saya temui di Surabaya. Sekarang saya sudah jadi salah satu “anaknya”. Saya berguru pada Pak Asrul soal sampah, regulasi dan rahasia-rahasianya.

Banyak seklai rahasia persampahan Indonesia. Pak Asruk hafal sistem, orang, kebijakan hingga aturan-aturan sampah. Sehingga saya bisa ikut menandai siapa saja yang sedang melawan dan dilawan nya.

Hal-hal di balik kebijakan kantong plastik berbayar (KPB) atau Kantong Plastik Tidak Berbayar (KPTG) adalah yang paling sering dibahas.

Pak asrul menduga ada “permainan” sangat besar dalam KPB/KPTG itu. “Saya punya semua buktinya,” ungkapnya.

Yang sering dibahas juga adalah waste management yang seharusnya dijalankan semua daerah Indonesia. Juga tentang pertarungan bisnis plastik. Hingga gerakan anti dan pro PLTSa.

Pak Asrul selalu menjelaskan samoah secara holistic. Sampah berkaitan dengan pergerakan politik, ekonomi, ekologi dan sosial. “Sampah ini bukan soal sederhana Dek. Banyak yang bermain,” tegasnya.

“Kalau kau dekat saya. Tunggu saja nanti akan ada yang datang melemahkanmu. Jika tidak kuat, kau pasti hilang juga seperti yang lain,” lanjut pria Bugis itu.

Rupanya Pak Asrul ini sudah banyak mendidik orang. Di mana-mana seluruh Indonesia. Sebagian tetap bersamanya, sebagian berkhianat.

Pak Asrul yakin masa depan Indonesia adalah mengelola sampah. Itu sudah sampaikannya itu ke Presiden, Menteri dan Pejabat- pejabat pemerintah pusat. “Perjuangannya panjang, tapi Allah pasti beri jalan,” tuturnya.

Pak Asrul ditinggalkan orang-orang yang sudah mendengar gagasannya, sementara ide-idenya dipakai. Saya melihat curriculum vitae-nya. Banyak sekali ide-idenya dipakai dan melahirkan banyak organisasi persampahan.

“Setiap ditinggalkan orang, saya anggap itu ujian dari Allah. Orang-orang yang bicara solusi sampah itu tidak akan sukses, sebab kuncinya Allah berikan pada saya. Kuncinya ada pada GIF. Memang saya mira begitu,” tegasnya.

GIF adalah Green Indonesia Foundation. Sebuah organisasi swadaya yang didirikan Pak Asrul untuk memperjuangkan waste management. Tata kelola sampah yang sesuai regulasi, menguntungkan masyarakat, menghemat anggaran pemerintah, menghapus monopoli pengelolaan sampah dan membereskan masalah lingkungan. (nra)

Written by
Nara Ahirullah
Join the discussion

Instagram has returned empty data. Please authorize your Instagram account in the plugin settings .

Tentang Nara

Nara Ahirullah

Saya tidak pandai bercerita, tapi suka menulis.

Instagram

Instagram has returned empty data. Please authorize your Instagram account in the plugin settings .