Bangkalan Menuju Pengelolaan Sampah tanpa TPA

Bangkalan Menuju Pengelolaan Sampah tanpa TPA

“Bisakah Bangkalan hidup tanpa TPA Sampah?”

Kabupaten Bangkalan akan berbenah total dalam pengelolaan sampahnya. Berkembang rencana Kabupaten Bangkalan akan menuju pengelolaan sampah tanpa tempat pemrosesan akhir (TPA).

Rencana pengelolaan sampah tanpa TPA muncul dalam rapat konsolidasi Tim Bangkalan Bersih Bebas Sampah (B3S)yang digelar Bupati Bangkalan, RKH Latif Amin Imron pada Senin 16 Maret 2020 di Aula Pemkab Bangkalan.

Hadir dalam pertemuan itu para pembina Tim B3S yang terdiri dari Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda); pengarah tim uang terdiri dari Sekda Bangkalan, para camat, para staf ahli, Ketua PKK, Ketua Dharma Wanita, para kepala badan dan dinas serta para sisten bupati.

Juga hadir pengurus serta anggota tim yang terdiri dari Kepala DLH Bangkalan sebagai penanggung jawab. Serta narasumber Pak Asrul Hoesein yang merupakan anggota tim pendamping program Tim B3S serta Pak Wahyudi Sulistya, Owner PT. Kemasan Ciptatama Sempurna.

Dalam laporannya, Nur Rahmad Ahirullah, Ketua Tim B3S, menyampaikan bahwa tim yang dipimpinnya adalah bentuk peran masyarakat dalam upaya pengelolaan sampah yang dilembagakan melalui SK Bupati No. 188.45/51/Kpts/433.013/2020.

“Tim ini merupakan wujud dari amanat UUPS (Undang Undang Pengelolaan Sampah),” ujarnya.

Dijelaskan, tim tersebut adalah perekat semua pihak dalam rangka pengelolaan sampah yang lebih baik. Bekerja secara teknis dan nonteknis yang langsung bertanggungjawab pada Bupati Bangkalan.

“Saya berharap tim ini dapat bekerja dengan konsep yang baik dan realistis. Edukasi pada masyarakat harus berjalan maksimal, sehingga pengelolaan sampah di Bangkalan bisa berjalan efektif,” tutur Bupati Bangkalan RKH Latif dalam Sambutan nya.

Bupati Bangkalan meminta tim dapat bekerja dengan terus berkoordinasi dengan pihak terkait. “Yang menjadi konsern kami sekarang adalah pengelolaan sampah di TPA. Warga masih banyak yang enggan,” ungkapnya.

Menanggapi sambutan Bupati Bangkalan tersebut, narasumber Pak Asrul Hoesein langsung menyampaikan konsep teknis pengelolaan sampah.

“Pak Bupati dan semua yang hadir di sini, perlu saya sampaikan bahwa saya hadir di sini ingin membantu saja. Supaya pengelolaan sampah sesuai regulasi dan terhindar dari persoalan teknis dan nonteknis,” ujarnya.

“Saya tidak berbisnis sampah. Saya haramkan diri saya berbisnis sampah. Saya datang ke Bangkalan dari Jakarta bukan seperti lainnya yang membawa solusi dengan bisnis sampahnya,” tegas pria asli Bone, Sulawesi Selatan itu.

Sebelum Bupati Bangkalan meninggalkan rapat konsolidasi tersebut, Pak Asrul mempersilahkan Pak Wahyudi Sulistya dari PT Kemasan Ciptatama Sempurna menyampaikan konsep pengelolaan sampah yang bisa menjadi alternatif di Bangkalan.

“Saat ini saya dan Pak Asrul sedang mendampingi beberapa provinsi dan kabupaten dalam mengelola sampahnya. Dan kami sedang menyuarakan supaya daerah yang akan mendapat penghargaan Adipura adalah daerah yang tidak punya TPA,” ujar bos pabrik styrofoam yang peduli lingkungan itu.

Untuk itu, sambung Pak Wahyudi, ada alternatif pengelolaan sampah seperti yang disampaikan Pak Asrul mulai dari hulu sampai hilir yang banyak melibatkan masyarakat. “Tapi hilir yang dimaksud bukan TPA. Melainkan pengelola sampah kawasan di tingkat desa atau kelurahan,” terang Pak Wahyudi.

Kabupaten Bangkalan harus membuat bank sampah yang sesuai regulasi di setiap desa/kelurahan. Bank sampah yang secara terus menerus melatih pemilahan sampah di masyarakat.

Kemudian membentuk primer koperasi pengelola sampah (PKPS) untuk rumah bisnis bank sampah se kabupaten. Dan infrastruktur di tingkat rumah tangga dan pengelola sampah harus dipenuhi.

“Nanti kalau ada sampah yang tidak bernilai ekonomis bisa dijadikan briket sampah. Mesinnya ada, nanti hitung-hitungan bisnisnya saja ajari supaya pemerintah dan masyarakat tahu keuntungannya,” papar Pak Wahyudi.

Bupati Tertarik Pembuatan Briket Sampah di Desa/Kelurahan

Bupati Bangkalan tertarik dengan pembuatan briket sampah tersebut. “Contoh briket dan alatnya ada Pak?” tanya Bupati pada Pak Wahyudi.

“Saya tidak bawa tapi ada Pak Bupati. Silahkan nanti dilihat di tempat saya sekaligus berkunjung ke pabrik saya,” jawab Pak Wahyudi.

Pak Wahyudi menegaskan, dengan jalan pembuatan briket itu sampah tidak akan ada lagi yang dibuang ke TPA.

“Sampah akan selesai di bank sampah atau TPS 3R tingkat desa, desa kelurahan atau kecamatan. Dibuat briket. Briket nanti jaminan pasarnya jelas, untuk campuran atau mengganti kebutuhan batu bara pabrik-pabrik. Kalorinya memenuhi kebutuhan industri besar-besar,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Pak Wahyudi sepakat memberikan bantuan mesin convaktor pada Pemkab Bangkalan untuk memadatkan styrofoam yang akan didaurulang. Bantuan akan diberikan pada Bupati Bangkalan dalam waktu dekat.

Setelah Bupati Bangkalan meninggalkan rapat, forum berlanjut pada pembahasan teknis pengelolaan sampah. Hasil diskusi tersebut di antaranya adalah program bimbingan teknis pembentukan bank sampah yang sesuai regulasi.

“Nanti modul pembentukan bank sampah yang benar dan sesuai regulasi akan dibuat oleh tim,” tegas Pak Asrul.

Menutup acara konsolidasi Tim B3S, Pak Setija Budhi, Sekretaris Daerah (Sekda) Bangkalan sebagai pengarah tim meminta agar segera dilaksanakan program jangka pendek dan menyiapkan program menengah dan panjang.

“Perubahan pengelolaan sampah harus dimulai dari perubahan pola pikir masyarakat. Selanjutnya pemenuhan infrastruktur dan SDM. Ini nanti harus lebih konkrit lagi dibahas dan dilaksanakan,” tuturnya. (nra)

Written by
Nara Ahirullah
Join the discussion

Instagram has returned empty data. Please authorize your Instagram account in the plugin settings .

Tentang Nara

Nara Ahirullah

Saya tidak pandai bercerita, tapi suka menulis.

Instagram

Instagram has returned empty data. Please authorize your Instagram account in the plugin settings .