Harapan dan Kenyataan Gagalnya “Indonesia Bersih 2020”

Harapan dan Kenyataan Gagalnya “Indonesia Bersih 2020”

“Kegagalan adalah kinerja Menteri LHK dan pasukannya yang tertunda.”

Pemerintah Indonesia dari pusat sampai daerah disebut tidak punya budaya tega. Yaitu tega melengserkan, mencopot atau memecat orang gagal.

Maka tidak heran jika kegagalan “Indonesia Bersih 2020” sama sekali tak memunculkan keributan. Seperti tidak ada yang janggal dengan perubahan target menjadi “Indonesia Bersih 2025”.

Padahal, aktivis dan pemerhati lingkungan itu banyak sekali loh. Pegiat sampah juga banyak banget. Tapi, sangat sedikit di antara mereka yang menyuarakan: Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) harus mundur !!!

Harapan “Indonesia Bersih 2020” itu bergelora sejak 2016 silam. Dikutip dari website resmi Kementerian LHK, semangat seperti ini:

“Dalam keterangannya pada konferensi pers yang diselenggarakan di Lobby Blok 1 Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, Dirjen Pengelolaan Sampah dan Limbah B3, Tuti Hendrawati Mintarsih mengatakan keinginannya terkait peringatan ini, -Kita ingin mengajak masyarakat semua peduli pada masalah sampah, kemudian kita juga tahu Indonesia penghasil sampah plastik nomor 2 di dunia, jadi kita ingin agar peringkat itu kemudian dapat berubah, kita jadi tidak masuk ranking tersebut karena ternyata bukan rangking yang positif.

Konferensi pers ini juga dihadiri oleh Sekretaris Badan Perlindungan Konsumen Nasional Ir. M.H. Indra Jaya, M.Si; Ketua Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) Tutum Rahanta; dan Perwakilan Komunitas Peduli Sampah, Sdr. Bijaksana Junerosano yang bisa disapa Seno. Puncak peringatan HPSN 2016 akan diisi oleh berbagai aksi, yaitu: pencanangan uji coba penghematan kantong plastik, deklarasi bergerak menuju Indonesai bersih sampah 2020 yang akan disampaikan oleh komunitas peduli sampah, pengusaha dan pemerintah kota/kabupaten, penandatanganan sampul prangko HPSN 2016 oleh Presiden Jokowi dan teleconference Presiden yang akan berdialog dengan empat kota yaitu Walikota Bandung, Walikota Surabaya, Walikota Makassar, dan Walikota Balikpapan. Hal ini menandai gerakan gotong royong atau kerja bakti bersih-bersih serentak di seluruh Indonesia.”

Di sisi lain, pencanangan “Indonesia Bersih 2020” itu juga jadi momentum revolusi mental pengurangan penggunaan plastik. Komitmen bersama seluruh Indonesia.

Sungguh lucu kalau diingat-ingat betapa semangatnya pencanangan “Indonesia Bersih 2020” itu. Harapan yang hebat itu gagal.

Apakah kegagalan itu salah?
Tentu tidak. Karena manusia biasa hanya boleh berencana, berhasil tidaknya urusan Tuhan.

Tapi untuk seorang menteri yang memiliki pasukan banyak, kegagalan jelas kesalahan. Bukti adanya kesalahan sistem, langkah, kinerja dan ketidakberesan program. Mulai dari perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan monitoringnya.

Kenyataannya, 2020 ini sampah makin banyak dikeluhkan. Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) hanya sedikit meningkatkan kepedulian.

HPSN hanya jadi ajang tampil para entertainer lingkungan yang tidak punya sistem kerja hulu ke hilir. Hanya punya target jadi EO acara bersih-bersih atau seminar dan FGD sampah.

Kenyataannya, surat edaran gubernur, bupati/walikota tidak membuat rakyat mengurangi penggunaan kantong plastik. Malah makin banyak.

Kenyataannya Presiden Jokowi justru meresmikan pembukaan pabrik bijih plastik baru di Banten. Mengatakan bahwa kebutuhan plastik Indonesia 2,3 juta ton per tahun.

Kenyataannya, semakin banyak tempat dipenuhi sampah. Pemerintah daerah banyak yang pusing karena TPA-nya bakal over capacity.

Kenyataannya keresahan pada kondisi lingkungan Indonesia makin besar. Kesadaran dan cinta lingkungan makin besar, tapi hanya pada lingkungannya sendiri saja.

Kenyataannya, kampanye pemilahan sampah dari sumbernya juga gagal. Buktinya, setiap hari TPS selalu penuh.

Kebijakan strategis nasional dan daerah kenyataannya juga hanya jadi tumpukan Perpres dan Perda. Nyaris semuanya saling copy paste.

Ketika jatuh temponya “Indonesia Bersih 2020” ternyata gagal. Indonesia 2020 masih kotor.

“Indonesia Kotor 2020” kemudian melahirkan jargon baru “Indonesia Bersih 2025”.

Kalau nanti 2025 Indonesia masih kotor, bisa dipastikan target akan berubah lagi jadi “Indonesia Bersih 2030” dan begitu saja seterusnya.

Mungkin “Indonesia Bersih” akan selamanya jadi target. Karena semakin kotor Indonesia, maka semakin banyak juga proyeknya yang harus dilakukan.

Di antaranya kegiatan seminar, FGD, peringatan HPSN, penilaian Adipura, sosialisasi bebas sampah, pengadaan tempat sampah, pembangunan TPS, pembuatan TPA, pembelian truk sampah, membangun PLTSa dan lain sebagainya.

Mungkin Indonesia sampai kapan pun tidak akan bersih. Sebab, terlalu banyak yang takut jadi pengangguran kalau Indonesia tidak kotor lagi. (nra)

Written by
Nara Ahirullah
Join the discussion

Instagram has returned empty data. Please authorize your Instagram account in the plugin settings .

Tentang Nara

Nara Ahirullah

Saya tidak pandai bercerita, tapi suka menulis.

Instagram

Instagram has returned empty data. Please authorize your Instagram account in the plugin settings .