Huruf Besar jadi Kecil, Ciri Orang Acuh dan Pemalas

Huruf Besar jadi Kecil, Ciri Orang Acuh dan Pemalas

Baru-baru ini saya mengingat kembali masa jadi redaktur di Radar Madura (Jawa Pos Grup). Gara-gara hal kecil, remeh tapi sangat mengganggu.

Apa itu? Orang-orang dewasa yang tidak bisa membedakan huruf kecil dan huruf besar.

Saat jadi redaktur pelaksana di Radar Madura, saya mungkin orang yang paling suka marah-marah. “Ngamuk” pada wartawan yang tidak tertib dalam penulisan dan penggunaan huruf kecil atau huruf kapital.

Saya pasti menyergah mereka dengan bilang begini: “Kamu sekolah lulusan apa? Pelajaran huruf kecil dan huruf besar itu diajarkan sejak TK loh”.

Kalau sudah kena semprot begitu, wartawan biasa terus cengengesan. Tentu saja saya timpali dia. “Kamu jangan cengengesan. Kalau tidak bisa jadi wartawan berhenti saja,” bentak saya.

Sudah banyak korban berjatuhan dan berhenti jadi wartawan gara-gara saya marahi begitu. Tapi yang tahan dengan kata-kata tidak enak itu, sekarang mungkin sudah jadi wartawan, redaktur atau pemimpin redaksi yang hebat. Kalau tidak kerja di media lagi, setidaknya mereka tahu ilmu huruf besar-huruf kecil.

Tentu saja bukan hanya soal besar-kecilnya huruf yang jadi pemicu amarah saya waktu itu. Titik dan koma pun bisa menjadikan wartawan kemringet kalau dipanggil ke meja saya. Apalagi kalau saya sedang lapar dan lauk jatah makannya tidak cocok dengan lidah saya..hehehe.

Nah, rupanya penyakit begitu tidak berubah di era milenial ini. Padahal, semuanya sudah texting pakai gadget. Yang pengatyrannya bisa disesuaikan untuk mengganti huruf kecil atau huruf besar.

Akhir-akhir ini saya jadi panitia sebuah acara. Untuk melengkapi acara itu peserta akan diberi e-sertifikat. Astaga, banyak sekali pendaftar yang menulis namanya pakai huruf kecil semua.

Ada yang lucu lagi. Beberapa pendaftar dengan beragam titelnya, menulis semua namanya dengan huruf kecil. Lalu, semua titelnya ditulis dengan huruf besar seluruhnya.

Ada juga yang menuliskan namanya dengan huruf besar semuanya. Ini masih mending, nilainya bisa dikasih 50-lah.

Tapi kalau untuk yang menulis nama dengan huruf kecil semua, ditambah di belakangnya ada titelnya… Wadaaah, ini cocoknya sekolah TK lagi. Memalukan.

Sungguh sebenarnya yang begitu itu adalah sebuah bentuk ketidakpedulian, acuh. Sebab jelas mereka melanggar hal kecil yang sudah ada aturan dan pakemnya. Memang tidak dosa, tapi hal itu menunjukkan dua hal.

Selain menunjukkan orang tidak peduli pada namanya sendiri (pasti untuk nama orang lain juga tidak akan peduli), hal itu menunjukkan orang itu tidak pernah baca buku. Jangan mengaku suka baca buku (apalagi mengaku pintar) kalau menulis namanya sendiri saja pakai huruf kecil semua.

Sungguh, bagi orang-orang seperti itu sekolah tidak ada gunanya. Mereka hanya menghabiskan biaya dan menyia-nyiakan keringat orangtuanya.

Jika tak berubah, orang begitu besar kemungkinan susah diajak kerjasama. Sulit diajak kerja keras. Tidak bisa bekerja cerdas. Pokoknya, tidak bisa anak buah. Apalagi jadi bos. (nra)

Join the discussion

1 comment
Instagram has returned empty data. Please authorize your Instagram account in the plugin settings .

Tentang Nara

Nara Ahirullah

Saya tidak pandai bercerita, tapi suka menulis.

Instagram

Instagram has returned empty data. Please authorize your Instagram account in the plugin settings .