Surat Terbuka Pada Presiden Jokowi di Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2020

Surat Terbuka Pada Presiden Jokowi di Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2020

Akhirnya ada kesempatan bagi saya menulis surat terbuka pada Presiden RI Joko Widodo. Dalam rangka Hari Lingkungan Sedunia ini, berharap Presiden tahu kondisi lingkungan di Indonesia melalui saya. Rakyat biasa.

Terus terang Pak Presiden, saya sudah kurang percaya Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) bisa membereskan masalah sampah di Indonesia. Nanti saya jelaskan alasannya.

Saya juga tidak percaya bahwa pembantu Presiden lain yang harusnya menyelesaikan masalah sampah di Indonesia ini bisa bekerja dengan baik. Bapak bisa memanggil mereka semua untuk rapat. Minta mereka menyampaikan laporan tentang bagaimana mereka mengerjakan persoalan sampah.

Setelah mendengar laporan mereka, Bapak bisa menghubungi saya untuk mengkroscek kinerja mereka di bawah. Saya akan antar ke mana saja Bapak mau untuk meyakinkan betapa mereka hanya melaporkan yang oke-oke saja.

Saya akan menunjukkan pada Bapak bahwa Bapak benar-benar harus melakukan monitoring dan evaluasi terhadap para pembantu Bapak yang dalam melaksanakan kebijakan Presiden dalam Tata Kelola sampah. Jika itu tidak dilakukan, sama saja dengan memperburuk citra Presiden sendiri.

Tentu saya akan ikut sedih jika Presiden Jokowi dikatakan sebagai pemimpin yang tidak becus mengurusi sampah di “rumahnya” sendiri. Maka tanyakanlah pada pembantu Bapak soal Peraturan Presiden No. 97 Tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga.

Bapak mungkin akan mendapati laporan yang bagus-bagus, meski sebenarnya kondisinya lumpuh, stagnan dan miskin kolaborasi. Masing-masing menteri jalan sendiri dengan kegiatan-kegiatan yang terkesan hanya menghibur masyarakat saja. Atau kalau boleh saya bilang: pencitraan.

Terlebih dalam perpres tersebut Kementerian Pertanian yang begitu penting tidak dimasukkan. Padahal, sampah organik se Indonesia sangat berpotensi jadi pupuk organik.

Karena Kementerian Pertanian tidak masuk dalam urusan sampah, akhirnya target subsidi pupuk organik 1 juta ton tidak terpenuhi. Hanya bisa diproduksi sekitar 350.000 ton per tahun.

Subsidi pupuk organik akan selalu gagal bila jika fokus bahan bakunya bukan dari sampah organik Pak Presiden.

Sampah Butuh Pemimpin Bukan Butuh Ahli

“Jadi pilihannya antara kita mau membangun sistem dan berbuat positif, atau kita bisa memilih terpuruk dan macet di lingkaran negatif pengelolaan sampah.”

Saya bukan orang hebat dalam urusan sampah Pak Presiden. Tapi saya tahu betul bagaimana kondisi di lapangan.

Dan saya banyak belajar pada Asrul Hoesein dari Kabupaten Bone – Provinsi Sulawesi Selata, tentang sampah dan segala dinamikanya. Seseorang yang saya yakin Pak Presiden tidak asing dengan nama tersebut.

Dari Asrul saya mengetahui carut – marutnya pengelolaan sampah di Kementerian LHK, Kemenko Marves, Kemen PUPR dan 15 kementerian lain yang disebutkan dalam Perpres No. 97 Tahun 2017. Saya juga akhirnya paham tentang perang bisnis dan kasus yang berkelindan dalam pelarangan plastik dan sebagainya.

Pemahaman saya juga bertambah tentang impor sampah, pelanggaran perusahaan produsen sampah yang berlindung di asosiasi – asosiasi hingga politisasi kebijakan tata kelola sampah serta banyak sekali kasus lainnya.

Asrul yang menyadarkan ketika saya membenci Presiden gara-gara meresmikan pabrik baru polyethylene (PE) PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) senilai US$ 380 juta. Pabrik yang bisa menghasilkan plastik 400.000 ton per tahun.

Saya pun akhirnya sadar bahwa plastik tidak bisa dilawan dan dilarang. Plastik merupakan kebutuhan peradaban. Ditambah lagi dengan kondisi pandemi Covid-19 seperti sekarang ini. Plastik sangat dibutuhkan.

Maka Pak Presiden, sungguh persoalan sampah ini tidak bisa dibiarkan stagnan dan macet terus. Bapak harus memimpin sendiri menyelesaikan persoalan ini. Atau setidaknya pilihlah pembantu yang tepat untuk mengimami masalah sampah Indonesia ke depan.

Masalah sampah bukan persoalan yang bisa diselesaikan oleh ahli-ahli parsial. Persoalan ini hanya bisa diselesaikan dengan kepemimpinan yang benar, tegas, multitalenta dan tunduk pada regulasi.

Suara Terakhir dari Perang Sistem Pengelolaan Sampah

Kemarin, 4 Juni 2020 saya menjadi moderator untuk Webinar berjudul “Paradigma Pengelolaan Sampah Melalui Koperasi”. Inti pembicaraan online itu adalah membangun sistem pengelolaan sampah yang berjenjang dan berjejaring di seluruh Indonesia.

Saya hanya menerima masaknya hasil perjuangan Asrul Hoesein. Perjuangan yang akhirnya mendapat dukungan dari Kementerian Koperasi dan UKM RI. Yakni, dukungan untuk membentuk Primer Koperasi Pengelola Sampah (PKPS) di seluruh kabupaten/kota Indonesia.

Seorang Asrul sendirian memperjuangkan sistem PKPS untuk pengelolaan sampah Indonesia. Demi Tuhan Pak Presiden, Indonesia seharusnya berterima kasih pada Asrul Hoesein. Bukan memusuhinya disebabkan iri karena idenya, konsepnya dan sumbangannya-lah yang paling cocok untuk tata kelola sampah Indonesia sesuai regulasi.

Asrul selalu mengatakan bahwa sistem PKPS itu bukanlah konsepnya. Melainkan idenya yang didasari regulasi pengelolaan sampah Indonesia.

Sebagai negarawan sejati, Asrul telah menyerahkan idenya itu untuk tanah airnya. Meski untuk itu Asrul berjuang cukup lama dan panjang sejak 2015.

Saya meyakini, sistem PKPS itu adalah suara terakhir Asrul dalam “perang” sistem pengelolaan sampah. Selesai sudah perjuangannya.

Pak Jokowi, kami yang mengenal Asrul Hoesein dan memahami idenya itu akhirnya menjalankan sistem PKPS. Kami percaya dan yakin sistem PKPS adalah solusi masalah sampah di Indonesia.

Kami memilih membuat sistem dan berbuat positif untuk memperbaiki tata kelola sampah Indonesia.

Demikian surat ini saya tulis dan semoga sampai untuk dapat dibaca Presiden Jokowi.

Salam kecil dari Merdeka dan Revolusioner (anak-anak saya) Pak Presiden.

Nur Rahmad Ahirullah (Nara)

Join the discussion

Instagram has returned empty data. Please authorize your Instagram account in the plugin settings .

Tentang Nara

Nara Ahirullah

Saya tidak pandai bercerita, tapi suka menulis.

Instagram

Instagram has returned empty data. Please authorize your Instagram account in the plugin settings .