Sumpah Pemuda Kelola Sampah Indonesia

Sumpah Pemuda Kelola Sampah Indonesia

Kami putra dan putri berjanji akan berjuang untuk Indonesia bersih sampah.

Kami putra dan putri Indonesia berjanji akan melakukan pengelolaan sampah.

Kami putra dan putri Indonesia berjanji menjunjung sirkular ekonomi untuk kesejahteraan bersama.

Tahun ini tepat 92 tahun peringatan Sumpah Pemuda. Semangat persatuan harus tetap dipupuk, jangan sampai kita tercerai-berai dalam urusan dan bidang apapun. Sebagaimana sekarang tak bisa pungkiri kita sudah mengisi bidang dan urusan masing-masing dalam mengisi kemerdekaan.

Perjuangan kita barangkali sama dengan tahun 1928 silam, meski yang dihadapi atau dilawan berbeda. Dulu kita harus bersatu untuk melawan penjajahan dari bangsa lain yang rakus. Sekarang kita harus bersatu menghadapi bahaya laten dari bangsa sendiri yang tamak. Sukarno pada satu kesempatan mengatakan, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”.

Kondisi itu terjadi di segala bidang dan urusan. Terutama sampah.

Sampah berkaitan dengan semua orang di seluruh dunia. Jika masih hidup pastilah menghasilkan sampah. Menghasilkan dalam hal ini berarti produsen maupun penimbul. Produsen adalah yang membuat produk dan sisa produknya jadi sampah. Penimbul adalah yang memakai produk dan setelah pemakaian itu ada sisa produk yang jadi sampah. Dua definisi itu harus selalu disampaikan agar jelas perbedaannya dan jelas tanggung jawabnya.

Di mana posisi pemuda di dunia persampahan?

Mayoritas pemuda adalah penimbul sampah. Sedikit sekali di antara pemuda berada di posisi produsen sampah. Produsen sampah rata-rata adalah senior. Perjalanan produksi sampah di Indonesia sudah salama sekali, dimulai sekitar 1960-an. Maka, jika ada pemuda yang ada di posisi produsen sampah, mereka adalah penerus bisnis orang tuanya atau keluarganya.

Bisa jadi dari 64,19 juta pemuda Indonesia saat ini, 60 jutanya adalah penimbul sampah. Sedangkan 4,19 jutanya adalah produsen sampah meneruskan bisnis keluarganya memproduksi plastik, kertas, karton, ban, kasur, kaos, sepatu dan semua produk utilitas kita. Usia produktif pemuda memungkinkan mereka merupakan populasi yang menyumbang sampah terbesar pada lingkungan.

Namun dari 64,19 juta pemuda Indonesia itu ada di antaranya yang punya kepedulian pada lingkungan. Kepedulian mereka beragam. Ada yang hanya sekadar prihatin, prihatin lalu memposting hal-hal terkait lingkungan di media sosialnya, ada yang memposting dan bergerak melakukan sesuatu.

Sayangnya pemuda kita banyak yang melakukan sesuatu dalam keterjebakan “yang penting sudah” melakukan sesuatu. Sehingga sebesar apapun lingkup gerakan mereka, hasilnya tak signifikan alih-alih tak mengubah apapun. Tak jarang justru menimbulkan tambahan masalah.

Untuk itu, pemuda harus banyak baca dan belajar mengenai pengelolaan sampah yang sebenarnya. Jangan sepotong-sepotong dan terjebak di kiasan “yang penting sudah” peduli daripada tidak sama sekali. Mestinya, sekali peduli maka pedulilah dengan sebaik-baiknya jangan asal peduli atau “yang penting” atau “pokoknya” peduli.

Sebenarnya sudah banyak kepedulian pemuda pada dunia persampahan di samping yang tidak peduli dan menyebabkan masalah sampah. Tapi mereka harus benar-benar meningkatkan pengetahuan dalam pengelolaan sampah supaya kepedulian mereka menyentuh pada inti persoalannya. Sehingga tidak larut dalam tren-tren cinta lingkungan yang salah kaprah dan tak sadar bahwa kepedulian mereka ditunggangi banyak kepentingan bisnis.

Wahai pemuda Indonesia..!!
Wujudkan tata kelola sampah Indonesia…!!!
Salam Indonesia Bersih Sampah..!!!

Join the discussion

Instagram has returned empty data. Please authorize your Instagram account in the plugin settings .

Tentang Nara

Nara Ahirullah

Saya tidak pandai bercerita, tapi suka menulis.

Instagram

Instagram has returned empty data. Please authorize your Instagram account in the plugin settings .